
Darah bagi tubuh manusia adalah setrum. Tanpa darah, jangan harap ada kehidupan.
Karena nilai pentingnya ini, maka keluarnya darah dari tubuh manusia menjadi peristiwa yang mempunyai nilai tersendiri.
Orang yang berdarah karena kecelakaan, nilainya keteledoran. Yang menjadi donor darah, nilainya kemanusiaan. Yang karena haid atau nifas, nilainya kodrat ilahi. Pokoknya, keluarnya dari tubuh manusia harus dikarenakan alasan-alasan tertentu yang bernilai agung bagi kehidupan, kecuali manusia yang sengaja melukai dirinya sendiri (kalo yang ini nilainya kedunguan).
Oleh karena itu, kalau ada manusia yang dipaksa mengeluarkan darah dari tubuhnya, pastilah dia akan menolak mentah-mentah sambil mempertahankan mati-matian. Dan si pemaksa tersebut pastilah seekor lintah atau vampir yang haus darah dan yang pasti bukan manusia.
Tapi memang, lintah tak mesti hidup disawah dan vampir tidak mesti ada di cerita-cerita horor. Wujudnya pun tidak melulu seperti yang kita kenal. Lintah dan vampir bisa bertampang manusia.
Setidaknya itulah yang bisa dilihat dari peristiwa-peristiwa yang mengerikan yang terjadi belakangan ini. Contohnya pada peristiwa ryan seorang gay yang membunuh lebih dari 20 orang atau banyak nya pengeboman-pengeboman yang memakan banyak korban. Lalu timbullah pertanyaan kenapa mereka bisa menjadi lintah or vampir, apakah karena mereka sudah bosan hidup sebagai manusia? Apakah hanya karena ideologi dan pemahaman yang berbeda atau hanya dengan alasan keegoisanisme tiba-tiba selera minum menjadi berubah, tidak lagi doyan minum air putih tapi darah?
